IDENTITAS mendapat perumusan sebagai suatu produksi, bukan esensi yang tetap dan menetap. Dengan begitu identitas selalu berproses, selalu membentuk, di dalam –bukan di luar—representasi. Ini juga berarti otoritas dan keaslian identitas dalam konsep “identitas kultural” berada dalam masalah, karena sebenarnya memang tidak ada esensi identitas yang bisa ditemukan, melainkan sebaliknya identitas merupakan konstruksi pecahan-pecahan identitas berganda (multiple identities). Identitas hanya bisa ditandai dalam perbedaan, sebagai suatu bentuk representasi dalam sistem simbolik maupun sosial, untuk melihat diri sendiri tidakseperti yang lain.
POLITIK IDENTITAS memberi perhatian atas penyelenggaraan dan perawatan hak-hak budaya demi kepentingan klaim identitas dalam masyarakat dan kebudayaan, dalam suatu formasi koalisi tempat setidaknya nilai-nilai dihayati bersama. Politik identitas merupakan perangkat-bagian dari politik budaya, yang berkepentingan dengan kuasa untuk memberi nama, dan membuat sejumlah deskripsi bermakna tetap. Representasi identitas menjadi politis, karena merupakan pertanyaan atas kuasa sebagai bentuk regulasi sosial yang menjadi produksi diri, yang memungkinkan suatu jenis identitas mengada ketika mengingkari yang lain.
PROYEK IDENTITAS merupakan gagasan identitas sebagai proyek yang mengacu kepada penciptaan naratif identitas-diri, yang berlangsung terus menerus menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Meskipun teori kebudayaan menegaskan identitas terpecah dan berganda, dalam kehidupan sehari-hari diri terus menerus dijabarkan dalam pengertian naratif atas diri. Dengan runtuhnya bentuk tradisional atas identitas sebagai akibat modernitas, tetapi yang berarti juga meningkatkan banyaknya sumber bagi konstruksi identitas, maka tugas membangun identitas menjadi sebuah proyek. Dengan ini identitas menjadi sesuatu yang diciptakan, sesuatu yang selalu berada dalam proses.
•Makna selalu merupakan hasil tindak artikulasi. Proses itu disebut artikulasi karena makna harus diekspresikan, tetapi selalu terekspresikan dalam konteks, momen historis, dan wacana-wacana yang spesifik. Suatu ekspresi selalu terhubungkan dan terkondisikan oleh konteks. Artikulasi juga bisa berarti re-artikulasi maupun dis-artikulasi.
Makna selalu ditentukan oleh konteks artikulasi. Teks dan praktik budaya adalah multiaksentual, yakni dapat terartikulasi dengan aksenberbeda, oleh orang yang berbeda, dalam konteks berbeda, untuk politik yang berbeda pula.
•Makna dengan begitu adalah suatu produksi sosial. Suatu teks, praktik, atau peristiwa bukanlah sumber yang menyebarkan makna, melainkan situs tempat artikulasi makna—atau variable makna-makna—mengambil tempat. Adapun karena makna-makna yang berbeda bisa berasal dari teks, praktik, atau peristiwa yang sama, makna selalu merupakan situs potensial bagi konflik.
No comments:
Post a Comment